Kisah Masa Lalu Dikota Granada

Kisah Masa Lalu Dikota Granada

Kisah Masa Lalu Dikota Granada – Jauh sebelum era Renaissance (abad 16), Spanyol sempat dirundung keterpurukan. Wilayahnya terbagi menjadi negeri-negeri kecil dengan kondisi ekonomi dan politik yang sangat menyedihkan. Kegelisahan dan rasa frustasi melingkupi masyarakatnya yang kala itu berada di bawah kekuasaan Raja Roderick (Kerajaan Goth). Benih-benih pertikaian dan pemberontakan pun mulai timbul di saat mereka ingin lepas dari belenggu yang menyiksa selama ratusan tahun. Hal inilah yang menyebabkan Julian, Gubernur Ceuta, meminta kaum muslim untuk membantu mereka lepas dari cengkraman kerajaan. Menanggapi permitaan tersebut, Musa bin Nusayr yang saat itu menjabat sebagai raja muda atau setingkat gubernur di Afrika Utara (Dinasti Bani Umayah), memerintahkan pasukan muslim di bawah komando Tariq bin Ziyad untuk menuju daratan Eropa. Kedatangan kaum muslim ini dianggap sebagai penolong bagi mereka. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor pasukan muslim mudah menaklukan daerah selatan Spanyol, khususnya wilayah Andalusia.

Bukti peradaban di Parque de las Ciencias

Islam masuk ke Eropa ditandai dengan mendaratnya pasukan pimpinan Tariq bin Ziyad di Gibraltar (sebuah daratan di ujung selatan Semenajung Iberia) pada abad ke 7 untuk bertempur dengan pasukan Raja Roderick di Medina Sidonia. Penaklukan pasukan muslim terhadap Kerajaan Goth menjadi awal berkembangnya islam di daratan Eropa, pasukan muslim pun mulai mengusai kota-kota Andalusia di antaranya Granada dan Malaga. Granada di bawah penguasa Islam kala itu mengalami kemajuan luar biasa, menjadi pusat peradaban sekaligus sumber ilmu pengetahuan mulai dari sastra hingga bidang teknologi.

Tak hanya kalangan muslim, kaum kristen dan yahudi yang berasal dari daratan Eropa lainnya turut menimba ilmu di sini. Bisa jadi kemajuan yang dialami Eropa di kemudian hari ada peran ilmuwan muslim yang turut mengembangkan ilmu pengetahuan pada masa kejayaan Islam di Andalusia. Ingin tahu seperti apa pencapaian ilmu pengetahun kala itu, saya pun mengunjungi Parque de las Ciencias, sebuah museum interaktif seluas 7 hektare yang berada di Kota Granada. Selain terdapat museum terbuka seperti Observation Tower, Observatorium Astronomi, Astronomi Garden dan Tropical Butterfly House, di sini juga ada galeri budaya, perpustakaan dan auditoriun. Di dalam auditorium tersimpan berbagai benda warisan ilmiah dan budaya Andalusia dari bidang astronomi, arsitektur, sastra, fisika, kimia dan mekanik. Melihat benda-benda peninggalan tersebut, terbayang oleh saya betapa waktu itu ilmu pengetahuan di Andalusia sudah mengalami kemajuan yang cukup signifikan.

Kemegahan Istana Alhambra

Di Granada kita pun bisa menyaksikan peninggalan masa kejayaan Isalam yang sangat fenomenal yaitu Alhambra, sebuah istana megah yang menjadi landmark kota. Istana yang tercatat sebagai warisan budaya dunia UNESCO sejak 1984 ini berdiri di atas bukit La Sabica. Mulai didirikan oleh bangsa Moor (Bani Ahmar) tahun 1238. Lokasinya tak jauh dari Albaicin, sebuah distrik yang dulunya merupakan tempat pemukiman bangsa Moor. Alhambra awalnya berupa benteng kecil lalu secara bertahap dilakukan pengembangan oleh keturunan Bani Ahmar selama berabad-abad. Ada dua pendapat mengenai asal usul nama Alhambra.

Ada yang beranggapan bahwa Alhambra berasal dari bahasa Arab yaitu hamra yang berarti merah, sementara lainnya meyakini diambil dari nama Sultan Muhammad bin Al Ahmar, pendiri kerajaan Islam terakhir di Spanyol. Terlepas dari dua pendapat tersebut, ketika saya melihat langsung istana ini, hampir tiap bagian bangunannya memang berwarna kemerahan. Warna merah tersebut berasal dari batu atau ubin yang melekat pada dinding maupun ornamen-ornamennya. Bisa dibilang Alhambra merupakan karya seni arsitektur bernilai tinggi, menjadi bukti puncak kejayaan islam di masa lalu. Saya pun membayangkan betapa hebatnya kekalifahan saat itu, mereka mampu membuat bangunan semegah ini pada masanya. Jika anda ingin berkunjung malam hari tidak perlu kuatir sebab istana ini sudah ada genset yang dapat memberikan kebutuhan listrik selama ada pengunjung. Bila ingin tau berapa harga yanmar genset yang digunakan oleh istana, bisa tanyakan langsung ke penjualnya.

Kompleks istana yang melingkupi area sekitar 14 hektar ini terbagi menjadi beberapa bagian. Selain bagian utama seperti ruangan sultan, ruang pengadilan dan masjid al Mulk, istana ini juga memiliki sejumlah taman dan halaman terbuka. Salah satunya yang menarik adalah halaman singa (patio de los leones) yang bersebelahan dengan sala de las Dos Hermanas, ruangan khusus untuk dua saudara perempuan sultan. Di halaman ini terdapat kolam kecil yang di bawahnya terdapat 12 patung singa yang memancarkan air dari mulutnya. Jika berjalan di lorong yang mengelilingi halaman tersebut, selain ada 128 pilar marmer yang menopang, kita juga bisa melihat ukiran kaligrafi yang sangat indah dan detail pada dindingnya. Selain itu pahatan yang menghiasi plafon tampak begitu simetris. Ornamen atau dekorasi lainnya di tiap bagian istana tampak begitu indah, saya pun terkagum-kagum melihatnya.

Sayang, cerita di balik istana tak seindah bangunannya. Perselisihan di kalangan keluarga kerajaan menimbulkan kisah yang ironi, perpecahan membuat kerajaan mudah dikalahkan oleh tentara musuh. Pada tahun 1492 terjadi penyerahan Kota Granada dari raja terakhir Bani Ahmar, Abu Abdillah kepada Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella di halaman Alhambra. Istana megah ini benarbenar menjadi bukti peradaban dan saksi kejayaan sekaligus keruntuhan Islam di Andalusia. Selain dari dekat, Alhambra juga indah dilihat dari Plaza de San Nicholas (daerah Albaicin) yang berjarak sekitar 2 km. Sore hari merupakan waktu yang tepat untuk menikmati keindahan Alhambra dari kawasan yang juga termasuk warisan budaya dunia UNESCO ini. Dari kejauhan Alhambra ini makin terlihat kemegahannya dan tampak indah dengan latar belakang pegunungan Sierra Nevada. Plaza de San Nicolas juga menjadi tempat berdirinya Mezquita Mayor de Granada (Masjid Besar Granada), Ziri Wall (tembok tua yang dibangun pada abad 11) dan Gereja San Nicolas.